Percik Api Sondang

Berita itu membuat saya tak bisa mengatur kerja jantung sendiri. Debaran jantung Sondang tentu lebih keras. Entah berapa kali lipat, mungkin sedikit lagi akan membunuhnya sebelum aksi bakar dirinya di depan istana di sore itu, 7 Desember 2011. Rasa takut, kesal, amarah, putus asa, ketidakpercayaan merupakan alat picu jantungnya.

Saya bayangkan dia sudah di sana saat demonstrasi para perangkat desa berlangsung.  Berkali-kali dipandangnya istana. Sambil terus menerus meneguhkan niat itu. Bakar diri, memang sebuah niat yang tidak main-main, apalagi di depan istana. Dalam pikirannya, saya bayangkan semua hal yang membenarkannya untuk melakukan itu berkelabatan tak henti-henti. Saya tentu tak bisa menebak pasti apa itu. Tetapi identitas mahasiswa, istana, dan bakar diri, sudah tentu bukan rangkaian komponen yang kebetulan muncul. Sondang sengaja memadunya. Untuk apa bakar diri karena patah hati di depan istana? Itu absurd.

Identitasnya sendiri, Sondang Hutagalung, 24 tahun, mahasiswa Universitas Bung Karno, baru diketahui dua hari kemudian. “Ia bergabung dalam komunitas Sahabat Munir hampir 1,5 tahun. Tak hanya itu, korban memang intens dalam memperjuangkan HAM,” tutur Crisbiantoro, Divisi Advokasi Kontras. Begitu petikan berita yang saya dapat cari di internet. Terkadang ia juga membantu aksi KONTRAS, walau bukan menjadi anggota. Di kampus pun sudah dikenal sebagai aktivis. Jelas bukan patah hati alasannya bermain api. Bagi saya jelas, meski mungkin tindakannya absurd (walau tidak untuk di Korea dan di Tibet sana), tapi soal yang diusungnya tak begitu.

Jantung ini masih belum kompromi juga ketukannya, ditambah senut-senut di kepala. Saya bayangkan begitu juga dentang jantung Sondang saat ia menyiramkan bensin dari botol yang pertama. Dilanjutkan botol kedua. Botol yang ketiga saya pikir memang sengaja tak ia siramkan, meski isinya hanya setengah. Untuk apa menyisakan bensin jika tekad sudah bulat. Entah, kenapa tak ia habiskan saja botol ketiga itu. Saya membayangkan mungkin yang terbayang olehnya persoalan-persoalan bangsa. Mungkin tentang putus sekolah, tentang kasus munir yang tak selesai, tentang Ruyati yang dipancung di Saudi sana, tentang hutan, mungkin, mungkin masih banyak lagi.

Boleh jadi bukan persoalannya yang membuat Sondang putus asa. Langkah-langkah penyelesaian soal-soal bangsa itulah yang mendorong rasa frustasinya memutuskan beraksi absurd. Langkah penyelesaian yang kita semua tahu, begitu struktural, begitu politis. Begitu membuat frustasi.

Putus asa itu juga yang membuatnya melintasi batas kulturalnya. Seorang teman mengatakan, itu bukan budaya kami, kami akan mencari seribu cara. Setau saya memang bakar diri tak ada dalam budaya kita, saya tak memasukkan beberapa kasus depresi. Kita bisa menemukan api dalam budaya ngaben, atau sepak bola api, tetapi tidak untuk protes.

Dalam kepala ini, terlihat Sondang lalu berjalan menuju istana. Berhadap-hadapan dengan wajah istana. Sepertinya, saya membayangkan ia meminta maaf kepada orang-orang dekatnya. Kepada kedua orang tuanya, mungkin karena ia tak jadi menikmati wisudanya di bulan ini juga. Kepada kawan, kepada kenalan, mungkin juga Tuhan. Dan ketika jarinya mengelincir di ujung korek itu, hilanglah semua duniawinya. Kosong. Lalu blub… api itu merayapi baju, perut, dada, wajah, dan rambutnya.

Saya tak punya rasa berani membayangkan lagi. Yang saya ketahui dari berita di internet, empat polisi di sana dan para pedagang asongan menutupi tubuhnya dengan jaket, dan menyirami air, mematikan api itu. Tubuhnya segera dibawa ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Di Jakarta yang macet setiap sorenya di hari kerja, mungkin Sondang cukup lama terbaring di mobil itu. Bersama sisa panas, dan asap.

Pening saya belum hilang. Sepenuhnya saya tak setuju Sondang. Sayang saya tak kenal ia. Namun kalaupun kenal tentu ia takkan bercerita rencananya. Ia tahu sekali semua kawan akan menentangnya, karena itu ia memilih diam dan beraksi sendirian. Tak ada satu foto, atau rekaman visual dari kenalan saat ia menyatu dengan api. Saat putus asa dan marahnya menjelma. Baginya ini hal yang sangat pribadi, ditariknya seluruh persoalan bangsanya pada dirinya. Lalu membakarnya.

Begitu pribadinya sehingga Sondang pun memilih cara yang sangat ekstrem. Menyalakan api di tubuhnya. Cara ini jauh lebih ekstrem dibandingkan berpuasa, menjahit mulut, gantung diri, menusuk, atau menggunakan bom sekalipun. Pening rasanya membayangkan rasa panas itu perlahan-lahan menjalari tubuhmu Sondang.

Walau begitu ia pun tahu akibatnya tak akan pribadi. Karena ia berbicara pada kita semua. Pada anda, saya, presidennya, dan juga politikus. Ia tahu itu, dan ia mengharapkan itu. Priyo Budi Santoso, wakil ketua DPR, sehari kemudian meminta investigasi khusus, “Yang ketiga yang menarik adalah depan halaman Istana Negara Presiden kita. Kok bukan di tempat lain, itu juga kami minta agar ada investigasi khusus dan mudah-mudahan dalam waktu dekat aparat kepolisian kita bisa mengungkapkan masalah ini.” Saya sedikit menyenangi pernyataan ini, tetapi karena kepercayaan saya kepada politisi juga sudah rendah membuat saya ragu, apakah ini bukan aksi politis. Aksi-aksi yang membuat Sondang putus asa.

Saya bertambah kecewa, ketika menemukan berita lain. Anas, Ketua Umum Partai Demokrat mengawatirkan aksi Sondang berbuah isu politis. Reaksinya tak menunjukkan keterpukulan atas hadirnya aksi protes yang begitu absurd di depan istana. “Nomor satu yang perlu saya sampaikan adalah, segera diobati,” ungkapnya.Bukankah sudah tentu setiap yang dibawa ke rumah sakit akan diobati, tanpa perlu perintah dari pimpinan organisasi politik besar. Dan Anas sungguh pintar, ia mengingatkan pemerintah untuk bekerja lebih keras dalam peningkatan ekonomi nasional, tentang pendistribusian kesejahteraan rakyat , tentang menurunkan angka kemiskinan. Tentang hal-hal yang diklaim pemerintah bahwa mereka sudah menunjukkan performanya. Ah, sudah budaya memang.

Saya kira Sondang sadar aksinya akan ditanggapi, dan ia benar. Meski mungkin tak sebagaimana mestinya. Namun saya pikir Sondang juga tak memhayalkan apinya mampu mengubah pikiran apalagi prilaku para pimpinan dan politisi di negeri ini. Ia tahu betul itu sulit. Sesulit upaya dokter-dokter RSCM menyelamatkannya.  Kabar subuh ini Sondang meningggal, semoga tidak. Sebuah jejak api buat bangsanya ia tinggalkan, tepat di depan istana.

Sondang, saya tak bisa banyak berkata, kecuali mengirim sedikit doa untukmu, juga jejakmu.

 

Rumah Kemuning, Jakarta.

Subuh, 10 Desember 2011.

NM. Ruliady