Sondang, Welcome Back!

Istana itu Sondang, buatmu tentu akan begitu personal. Sampai saat ini rasanya tak ada anak negeri ini yang mempunyai hubungan begitu emosionalnya dengan bangunan paling simbolis itu melebihi dirimu, bahkan presiden sekalipun. Engkau pernah coba menumpahkan seluruh hidupmu. Tuntas. Dengan cara yang begitu emosional dan personal.

Sondang, aku minta maaf telah salah menerima berita sebelumnya. Dari detikNews siang ini aku tahu engkau belum pergi, namun sedang bernegosiasi di ambang batas. Semoga, kau lewati momen itu dengan baik.

Sore itu, kau bentangkan pada kami dua jalan spiritual yang kau lintasi itu. Kau ajarkan kami bagaimana berkomitmen pada tanah ini. Pada udara yang kita hisap. Pada semua yang hidup pada tanah, air, dan udara di negeri ini. Aksimu menundukkan kami bahwa setiap anak negeri seharusnya memiliki emosi pada negerinya. Personalisasi negeri itu perlu, bahkan harus, begitu pesanmu.

Di sini aku tersadar, engkau protes bukan saja pada politisi. Engkau juga mengkritikku.  Tentang peran, tentang keteguhan. Tentang kemauan untuk tertatih-tatih, kalau perlu habis-habisan, mencoba memberikan sumbangan baik pada satu dua persoalan di “tanah surga” ini. Seorang teman menangkap pesanmu, ia bilang ia tak punya kekuatan batin sehebat engkau.

Aku sendiri memandang kehebatan batin bukan hanya dinilai dari ekstremnya cara.  Seekstrem engkau menyulut tubuhmu sendiri. Menurutku, dalam konteks kebangsaan yang kau sampaikan, kehebatan batin terukur dari derajat cita-cita kebangsaan seseorang, keberaniannya untuk menetapkan posisi bersama segala resikonya, dan keteguhan ia mewujudkan itu. Di depan istana engkau perlihatkan itu, meski aku tak menyetujui pilihanmu, tapi aku tak berani menentangmu.

Aku dapat menangkap rasa frustasimu Sondang. Frustasi pada persoalan yang itu-itu juga, melihat penyelesaian yang struktural dan politis tapi tak mendasar,  soal kebekuan hati para pimpinan, juga keacuhan para kerabat, kawan, dosen, dan semua orang meski setiap hari menikmati berita.

Sondang bagaimana lukamu? Semoga panas itu tak sampai merusak organ tubuhmu.

Apa pula yang kau dapatkan dari perjalanan spiritual keduamu, mengintip dunia maut? Aku tak tahu soal itu. Aku tak pernah mengalaminya. Aku juga tak berani menanyakan oleh-oleh apa yang kau dapatkan dari sana, karena itupun tentu sangat personal. Hanya antara kau dan tuhan saja. Sebuah titipan spesial buatmu, yang bahkan harus kau ambil sendiri ke sana.

Sondang, istana di sana itu tetap tenang dan di jalanan, tiga hari setelah aksimu tak ada perubahan banyak, semua berjalan as ussual.  Tapi jejak apimu tak bisa dihapuskan. Sejarah sudah kadung mencatat itu. Sejarah juga sudah menyiapkan tinta untukmu, aku berharap kau tidak menghabiskan apimu di depan istana itu, semoga masih cukup banyak untuk langkahmu nanti.

Oh ya Sondang (dan kepada semua yang membaca “Percikan Api Sondang), aku minta maaf sekaligus izin untuk sedikit mengubah bagian penutup di postingku berjudul Percikan Api Sondang itu. Sekedar menjaga tak ada salah informasi saat tulisan itu dibaca terpisah.

Aku harap sempat menjengukmu, dan berharap juga pelayanan para dokter, suster, dan administratur di RSCM membaik, menyesuaikan bangunan rumah sakit itu yang semakin megah. Juga semoga biayanya tak menjadi mahal. Cepat sembuh kawan, selamat berwisuda.

Welcome back!

 

Rumah Kemuning, Jakarta.

Sore, 10 Desember 2011.

NM. Ruliady