Stabil Kuning Dong

Walau sekarang banyak pilihan, tetapi dahulu hanya ada beberapa saja. Warna kuning paling banyak dipih orang-orang ketika itu, ya ada juga yang sesekali memilih warna hijau. Entah karena dia bosan warna kuning, benar-benar pecinta warna hijau, atau terpaksa memenuhi tuntutan pacar. Tetapi kuning masih tetap dominan, juaranya. Pun sampai kini.

Ah, malaikat juga tahu kok. Jadi kangen Dewi Lestari. Dan biarpun malaikat tahu saya tetap akan bicara soal ini. Toh yang mau baca bukan mereka.

Warna-warna menjadi penanda. Fungsi itu sudah ada sejak lama. Dan sampai sekarang, masih eksis seperti itu juga. Cuma, sekarang ini pilihan kita akan warna itu sudah lebih banyak. Mau merah tua ada, merah muda juga ada, sampai warna ungu yang dulu jarang digunakan sekarang eksis juga. Tetapi sekali lagi, tetap, warna kuning yang favorit.

Sialnya, warna-warna itu, susah sekali dihapusnya. Benar-benar susah. Bahkan boleh dikatakan tak mungkin dihapus. Kita harus mau menerima resiko besar kalau mau menghapusnya. Dan karena hapus-menghapusnya sungguh susah dilakukan, wajar saja kalau banyak orang berhati-hati. Mereka yang sembrono cenderung menggunakannya berlebihan, akibatnya hasil pun kurang sedap dilihat.

Untungnya saya termasuk golongan yang tabah tak aktif bergaul dengan pewarna itu. Sebenarnya sempat juga sih, tetapi sebentar saja kok. Anti, bukan itu alasan paling dasar. Mungkin sifat pemalas saya saja penyebabnya. Dan rupanya hal itu menguntungkan saya karena buku-buku saya sampai kini tetap bersih bebas dari pewarna itu, spidol stabilo. Tidak ada tarikan garis kuning, merah, apalagi ungu yang sedari dulu saya memang amit-amit menggunakannya. Padahal, ada teman yang menandai sampai tiga paragraph, padahal itu berarti lebih separuh halaman. Saya bingung juga, kenapa tidak sekalian pakai kuas sudah tentu lebih cepat. Aneh kan!

Dan karena itu juga, sampai sekarang, kalau berangkat ke toko Grandma –Gramedia, red— penghapus yang saya pilih selalu penghapus pensil. Sumpah, sekalipun saya tidak pernah mencari penghapus stabilo, yang kabarnya sampai sekarang juga belum dibuatkan juga oleh pabrik stabilo. Sungguh produsen tak bertanggung jawab.

Saya akhirnya bersyukur karena terhindar jebakan malu, akibat mendatangi neng-pelayan Grandma lalu bertanya, “Mbak, penghapus stabilo di rak mana ya?”

Tuhan memang baik.

NMR
Kompleks Palapa – Pasar Minggu, 2 Februari 2015
Dimulai menjelang Isya, sudah pasti selesai setelah adzan Isya.