Pendidikan Merupakan Proses Pengakuan

Pendidikan sebagai proses pembudayaan merupakan pemahaman yang semestinya, sebab kita sendiri hidup dalam kebudayaan sekaligus membangun kebudayaan itu. Namun rasanya, pendidikan sebagai proses pembudayaan belumlah pemahaman akhir. Sebagai perangkat kehidupan, kebudayaan tetaplah sebuah perangkat dan belum titik akhir proses pendidikan, hanya saja, kita berada di dalamnya dan bersamanya kita bekerja. Kita sendiri selalu mempertanyakan, sudah baikkah kebudayaan yang kita bangun, sambil bertanya-tanya pula, untuk apa sebenarnya kebudayaan ini kita bangun. Pertanyaan ini memperlihatkan jika kita mendidik diri dalam proses kebudayaan masihlah dalam rangkaian sebuah tahapan.

Proses pendidikan sendiri selalu mengatakan internalisasi bagian tak terpisahkan. Pendidikan merupakan proses menginduksikan apa yang kita pelajari menjadi bagian diri kita. Ini pun mesti diakui kebenarannya. Tetapi untuk apa kita menginduksikan hal-hal itu kepada diri kita?

Jika begitu, menurut saya terdapat satu tahapan berikutnya dalam proses pendidikan yaitu Pendidikan sebagai Proses Pengakuan. Kita ketahui bersama, pengakuan berasal dari kata “aku”, yang setelah melewati proses imbuhan pe-an, menjadi bermakna upaya untuk menyerap, memahami, memaknai, menjiwai, menghayati, serta mengamalkan sebagai perwujudan keberadaan diri kita sendiri. Sebab itu  proses ini tidak mungkin hanya berlangsung sesaat semata, atau dalam rentang kurun waktu tertentu, namun akan berlangsung sepanjang hidup kita. Tidak mungkin juga, kita mencoba untuk membatasinya hanya sebagai pendidikan formal di sekolah, apalagi sekedar untuk mencari pekerjaan, karena pendidikan merupakan perjalanan hidup setiap orang, education for life.

Kita sendiri sangat menyadari jika pengakuan sendiri tidaklah sebatas hanya melalui ucapan semata, tetapi juga membuktikannya dengan pemikiran, sikap, dan tindakan. Dalam arah proses seperti itulah kita memahami pendidikan sebagai perjalanan untuk melahirkan pribadi-pribadi yang memiliki budi pekerti.

Telah kita akui juga bersama, jika kita merupakan makhluk individual sekaligus makhluk sosial. Di sinilah pada akhirnya, proses pendidikan sebagai proses pembudayaan akan berjalan dimana setiap anak atau setiap orang dalam proses pendidikannya tidak dapat melepaskan dirinya dari ruang hidupnya baik sebagai anggota keluarga, masyarakat, kelompok atau suku tertentu, bangsa dan negara, juga masyarakat dunia. Namun, sebagai bagian itu “grup”nya, proses pendidikan ini tidak dapat menghilangkan hakikat individu setiap orang itu sendiri.

Lalu bagaimana proses belajar-mengajar? Ini merupakan sebuah relasi implementasi untuk terjadinya proses pendidikan. Pada dasarnya, seluruh interaksi yang kita alami sendiri merupakan pendidikan, karena bukankah kita sendiri mencoba menarik pemahaman, pembelajaran, mungkin juga hikmah dari setiap peristiwa yang kita alami. Namun, baiklah kita coba untuk membatasinya dahulu sebagai proses interaksi antara “guru” dan “murid” dalam proses pendidikan formal. Dalam proses ini, kita akan mengakui dahulu adanya sosok “guru” dan sosok “murid” itu sendiri, dimana seseorang yang membantu, memfasilitasi, dan mengajari kita untuk memahami dan mempelajari sesuatu. Dan, murid adalah mereka yang terbantu, terfasilitasi, dan terajari dari sang guru.

Dalam proses inilah sang guru mencoba mencari cara sebaik-baiknya untuk bisa membantu, memfasilitasi, dan mengajari sang murid. Banyak pemikir yang mencoba mengisi waktunya dengan membedah pemikiran dan pengalamannya untuk membedah hal ini, seperti yang dikelompokkan oleh Prof HAR Tilaar sebagai pendekatan reduksionisme. Paulo Freire mencoba menawarkan metode bagi mereka yang terhimpit sistem (tertindas, dalam kata yang ia gunakan) untuk dapat keluar dari himpitan tersebut, yang berarti pula mengubah posisi para penghimpitnya. Montesori mencoba menawarkan cara-cara tak mengekang bagi setiap anak untuk dapat mengangkat potensi individu-nya. Bloom dengan taksonominya (dan para pemikir yang melengkapinya) menawarkan bantuan kepada kita untuk melihat tingkatan kemampuan afeksi, psikomotorik, dan kognitif seorang anak. Disertai sumbangan pemikiran lainnya, pada hakikatnya sebagai bantuan untuk bagi guru untuk memilih dan membangun proses pembelajaran yang lebih efektif, yang terkadang kita bahkan terjebak untuk terlalu bersemangat mencapai nilai efisiensinya terlebih dahulu (menekan penggunaan sumber daya untuk mendapatkan, hasil sementara yang sebesar-besarnya).

Makna guru dan murid sendiri bisa melebur jadi satu, sejalan idiom “mengajar adalah cara belajar terbaik”, yang berarti pula sang guru sendirilah murid teladan. Karena para guru tentu akan mengambil pembelajaran-pembelajaran tertentu dalam proses mengajar yang ia lakukan, sehingga dalam pengertian esensial, di saat itu juga ia bertindak pula sebagai murid. Lalu sang murid sendiri? secara tidak sadar telah diperlakukan dan berlaku sebagai guru pula. Tetapi, dalam proses pendidikan formal, sebaiknya kita tetap meletakkan sebutan guru dalam seperti kondisi yang saat ini berlangsung.

Namun, pengakuan keberadaan sang guru, sang murid, dan materi pembelajaran sendiri, tidaklah mesti mengaburkan kita untuk mengakui keberadaan yang lainnya juga, yaitu proses itu sendiri, termasuk tujuan pembelajaran itu sendiri. Di sinilah dalam kurikulum pendidikan, seperti yang kita rasakan, perbincangan menjadi begitu dinamis. Sebab tak bisa dihindari pula, berbagai pada saat pengembangan kurikulum itu, setiap kepentingan ingin terakomodasi baik itu orang tua, komunitas, negara, bahkan negara lain, begitu pun masyarakat dunia. Di sini, anak sendiri tidak memiliki kesempatan untuk mengungkapkan kepentingan mereka, dan kita semua mencoba untuk mewakilinya melalui sudut pandang kita. Lalu jika begitu apa ukuran terbaiknya? Sulit untuk menentukkannya, boleh dikatakan ini “mission imposible”, meski kita tak perlu tenggelam dalam situasi “imposibble” itu. Mungkin sebaiknya kita memaknainya sebagai hal yang dinamis.

Dalam dinamika untuk menerjemahkan menjadi sesuatu yang dapat kita jalani dan nikmati bersama itulah kerumitan, yang menarik kita untuk ikut bergelut pula. Sebagai proses pengakuan, dalam menentukan tujuan pendidikan, kita akan dibenturkan pada memilih pengakuan berbagai keberadaan “sosok”. Misalkan, hakikat individu, potensi, masyarakat, alam, bangsa, komunitas, berbagai persoalan yang ada, agama, sejarah, tantangan masa depan, masyarakat dunia secara keseluruhan, dan berbagai hal lain. Sehingga bisa dipahami, memang ini situasi yang sulit, karena itu tak bisa rasanya kita membangunnya terlalu terburu-buru, juga tak bisa terlalu pelan juga, sebab kita tetap perlu melangkah. Maka terlalu merumitkannya akan menyusahkan kita sendiri, terlalu menyederhanakan akan menceburkan kita pula.

Satu hal yang saya lihat perlu kita akui lebih kuat dalam konteks keindonesiaan, adalah garis khatulistiwa dan sifat tropis yang diakibatkannya. Karena bukankah dari situasi alamiah inilah seluruh hal alami dan kebudayaan kita terbangun, menjadi begitu sangat beragam, apalagi dengan situasi kepulauan. Dua keberagaam penting yang kita sadari adalah keanekaragaman hayati dan keanekaragaman kebudayaan (multi kultural).

Maka sebagai proses pengakuan, pendidikan akan mendorong setiap orang untuk mengamati alam dan dirinya, melalui berbagai pengalaman untuk memahami dan mengakui segala hal di alam dan diri sendiri.

 

NM Ruliady

Sebagai materi bacaan dalam Buku Guru Sisipan Pendidikan Ketahanan Perubahan Iklim “Menemani Anak-anak Sai Bumi Ruwai Jurai”, @ 2014