Mbak Maya

Senang mendengarnya, berita itu, tentang perhatian pemerintah kita pada TKI. Seperti senangnya kalau mendengar lagu “Maya, engkau asisten rumah tangga” biarpun, syairnya ya cuma segitu-gitu itu, pendek sekali. Enaknya lagi, lagu itu untuk menyemarakan penampilan Maya yang memang segar untuk dilihat. Seiring Maya naik daun sebagai selebritis, isu TKI kini ikut menghangat.

Secara ekonomi sendiri TKI tak pernah merugikan, sebaliknya malah menguntungkan. Sumbangan devisa dari mereka lumayan besar. Tetapi kita semua hampir sepakat bahwa banyak masalah yang kemudian muncul akibat hijrah tempat kerja ini. Masalah itu dari soal tempat pelatihan dan penampungan yang amat ala kadar, percaloan karena administrasi pemerintah bolong di sana sini, perlakuan kasar di tempat hijrah, kebanyakan sebagai Asisten Rumah Tangga, sampai urusan pengadiilan.

Wajar saja, kalau kita semua merasa malu, sebagai orang Indonesia, sebagai saudara-bangsa mereka. Hidup dalam satu negeri, seringkali muncul rasa tak rela dihati kita sewaktu mendengar berita-berita sedih tentang mereka. “Sudah bekerja di negeri orang, jauh dari keluarga, banting tulang habis-habisan supaya anaknya bisa menjadi sarjana, ternyata malah tak dibayar atau malah badan remuk redam,” kira-kira begitu suara dalam hati. Memang, siapa yang tak miris disuguhi cerita begitu.

Tentu saja yang berhasil mengumpulkan uang juga banyak. Mereka dapat membangun rumah bata, menyekolahkan anak sampai sarjana, bisa mengadakan hajatan cukup besar untuk merayakan pernikahan sang anak, atau berinvestasi sawah. Bagaimanapun cerita gembira tetap ada. Namun tetap saja tak cukup meredam rasa miris kita melihat fenomena hijrah kerja saudara-saudara kita.

Mereka orang yang keluar negeri bahkan kabarnya mendapatkan serangan rasa malu lebih besar. Dan itu membuat mereka speechless untuk menjelaskan mengapa begitu banyak Maya merantau ke luar negeri padahal resiko juga besar, apalagi kalau dikait-kaitkan dengan performa pemerintah mengurusi Maya. Boleh jadi ketika akan menjawab, rasa kebangsaan membuat kapasitas mereka untuk cuek berceloteh drastis menurun. Penurunan performa untuk menjaga martabat negeri.

Jadi untuk negeri ini para TKI bukan cuma menyumbangkan devisa. Di antara seluruh bebannya ia ikut pula menjaga rasa kebangsaan. Setidaknya secara nyata –yang tidak nyata mungkin banyak, atas nama kebanggaan bangsa maka Presiden meminta kementerian Tenaga Kerja untuk membuat roadmap “Stop Kirim TKI”. Kita semua tentu berharap, walaupun ada rasa was-was juga soal pencapaiannya.

Tetapi saya merasakan was-was yang lain, bukan soal roadmap dan pelaksanaannya. Saya sudah cukup yakin dengan strategi “Wait and See” kalau soal menyikapi kebijakan –apalagi rencana—pemerintah, walau sekarang saya bisa menyimpan harapan lebih kepada Pak Wi dan JK. Ah soal yang tadi, entah kenapa sebenarnya saya lebih was-was dengan rasa kebangsaan di sini sendiri, dibandingkan di sana.

Was-was apakah Maya akan dihargai lebih baik. Apakah mendapatkan standar gaji asisten rumah tangga akan dapat lebih tinggi? Walaupun standar resmi gaji itu tak ada juga. Apakah akan mendapatkan waktu istirahat dan libur yang cukup? Apakah akan bebas dari makian yang tak perlu? Apakah fakta-fakta soal cerita sedih Maya di Negerinya sendiri akan berkurang. Cerita yang sempat dilagukan Iwan Fals “Tarmijah dan Problemnya”.

Apakah pula pemerintah akan membangun mekanisme perlindungan bagi asisten rumah tangga di negeri sendiri? Wah jelas semakin jauh saya berandai. Masalah TKI dan pekerja rumah tangga berkali-kali sudah diungkat diungkit, diungkat lagi diungkit lagi, dengan hasil luar biasa –tetap bisa diungkat-ungkit dengan masalah yang itu-itu juga. Baik di sini, atau di sana, nasib asisten rumah tangga tetap sama.

Sialnya, tak ada yang bisa saya kerjakan, punya asisten rumah tangga saja tidak. Dan saya cukup perlu puas menikmati acara Ini Talk Show, menyaksikan duet konyol Sule dan Andre, menunggu sang Asisten Rumah Tangga muncul. Ya, Maya yang putih cantik itu. Sambil saya ber-semoga, bersama itu bisa membesarkan cinta saya pada kehidupan negeri sendiri, pada kebangsaan di sini. Sebelum soal kebangsaan di sana. Semoga.

 

 

NM Ruliady  

Kompleks Palapa, subuh jam 5 pas valentin 2015

Hujan, cuaca yang pas buat tidur 🙂

Thank’s God